Kondisi orangutan di kebun binatang Indonesia.
Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Departemen Kehutanan untuk serius mengawasi pemeliharaan orangutan di kebun binatang. Desakan ini didasarkan pada hasil riset COP yang menunjukkan bahwa hampir seluruhorangutan yang berada di kebun binatang di Indonesia, saat ini beradadalam kondisi yang buruk. Para pengelola cenderung mengabaikan prinsip -prinsip kesejahteraan binatang (animal welfare) yang disepakati olehberbagai asosiasi kebun binatang seperti World Association of Zoos andAquariums (WAZA) dan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI),yakni:
1. bebas dari rasa lapar dan haus.
2. bebas dari ketidaknyamanan secara fisik.
3. bebas dari luka, sakit dan penyakit.
4. bebas mengekspresikan perilaku secara normal.
5. bebas dari stress dan tekanan.
COP melakukan penilaian pada 28 orangutan di kebun binatang Surabaya,Solo, Yogya, Bandung dan Jakarta. Penilaian dilakukan hanya pada orangutanyang dipamerkan, tidak termasuk orangutan yang disembunyikan, dipakaiuntuk pertunjukan atau dalam masa karantina. COP menghabiskan 30.000 detik untuk menilai setiap individu orangutan.
Pada umumnya, kebun binatang di Indonesia masih menggunakan kandang berjeruji untuk memamerkan orangutannya kepada pengunjung. Beberapa kebun binatang telah meninggalkan gaya kandang berjeruji dan menggantikannya dengan kurungan terbuka mirip pulau (enclosure). Hampir seluruh orangutanyang dikurung dalam kandang berjeruji, kondisinya lebih burukdibandingkan yang ditempatkan di enclosure.
Mereka tidak mendapatkan aksesair untuk diminum, minim interaksi sosial dengan orangutan lainnya dankandang kosong tanpa fasilitas bermain.“Mudah untuk mengenali gejala stress pada orangutan karena mirip denganmanusia. COP mendokumentasikan berbagai gejala stress dan gila sepertimembenturkan tubuh, memuntahkan makanan dan memakannya kembali, menjilatiputing susunya sendiri, minum air kencing serta menghabiskan waktu dengan tidur dan duduk bengong tanpa ekspresi,” kata Drh. Luki Wardhani,Captivity Researcher COP.
Menurutnya, hal ini seringkali disebabkan olehburuknya kualitas hidup orangutan tersebut.“Kebun binatang sebagai lembaga konservasi ex situ sudah seharusnya memperlakukan koleksi satwa sebagai spesimen hidup yang bernilai, bukan memperlakukannya seperti sekarang ini. Kebun binatang cenderungmengeksploitasi orangutan untuk hiburan dan lelucon bagi pengunjung. ,”kata Seto Hari Wibowo, Captivity Campaign Manager COP.